Survivorship Bias

kenapa kita gak boleh cuma belajar dari orang yang sukses

Survivorship Bias
I

Pernahkah kita merasa sedikit bersalah setelah menonton video rutinitas pagi para miliarder?

Saya sering mengalaminya. Kita melihat tokoh sukses bangun jam empat pagi. Mereka mandi air es, meditasi sepuluh menit, lalu membaca buku filsafat sebelum sarapan. Narasinya selalu sama. Jika kita melakukan persis seperti apa yang mereka lakukan, kita akan berenang di lautan kesuksesan yang sama.

Lalu, kita mencoba menirunya. Kita menyetel alarm jam empat pagi. Hasilnya? Bukannya jadi miliarder, kita malah mengantuk seharian di kantor dan lebih mudah marah.

Ada yang aneh di sini. Mengapa formula kesuksesan yang katanya sudah teruji ini jarang berhasil untuk mayoritas dari kita? Apakah kita kurang keras berusaha? Atau jangan-jangan, kita selama ini disuapi oleh sebuah data yang cacat?

Mari kita simpan pertanyaan ini sejenak. Jawabannya tidak ada di buku self-help atau video motivasi. Jawabannya justru tersembunyi di sebuah ruang rapat militer yang pengap pada masa Perang Dunia Kedua.

II

Tahun 1943, militer Amerika Serikat sedang pusing tujuh keliling.

Pesawat pengebom mereka terlalu banyak yang ditembak jatuh oleh musuh. Angkatan udara tahu mereka harus memperkuat pelindung baja di pesawat-pesawat tersebut. Masalahnya, baja itu berat. Jika pesawat dipasangi baja di seluruh bodinya, pesawat akan menjadi terlalu berat dan tidak bisa terbang bermanuver.

Mereka butuh efisiensi. Baja pelindung hanya boleh dipasang di bagian yang paling krusial.

Para perwira militer kemudian mengumpulkan data. Mereka memeriksa setiap pesawat pengebom yang berhasil pulang ke pangkalan setelah bertempur. Mereka mencatat setiap titik di mana peluru musuh bersarang.

Hasilnya sangat jelas. Sebagian besar lubang peluru bertumpuk di bagian sayap dan ekor pesawat. Sementara itu, bagian mesin hampir bersih dari bekas tembakan.

Kesimpulan para perwira militer saat itu sangat logis dan cepat. Sayap dan ekor adalah area yang paling sering tertembak. Oleh karena itu, pasang baja pelindung ekstra di sayap dan ekor!

Masuk akal, bukan? Namun, jika militer saat itu benar-benar mengeksekusi rencana tersebut, itu akan menjadi bencana besar.

III

Di tengah rencana para perwira militer tersebut, seorang ahli statistik kelahiran Hungaria bernama Abraham Wald angkat bicara.

Wald bekerja untuk Statistical Research Group, sebuah tim ilmuwan brilian yang membantu militer selama perang. Ketika Wald melihat diagram pesawat dengan titik-titik lubang peluru di sayap dan ekor, ia mengerutkan dahi.

Wald meminta militer untuk menghentikan rencana mereka. Ia mengatakan para perwira telah salah membaca data. Memasang baja di tempat yang banyak lubang pelurunya justru akan membunuh lebih banyak pilot.

Pernahkah teman-teman menduga ada sebuah logika terbalik di sini?

Coba kita bayangkan sejenak. Data menunjukkan sayap paling banyak ditembak. Mengapa ahli matematika ini justru melarang sayapnya dilindungi? Di mana sebenarnya baja itu harus dipasang?

Wald memberikan jawaban yang membuat seluruh ruangan terdiam. Ia menunjuk ke arah bagian mesin pesawat yang bersih dari lubang peluru.

"Pasang bajanya di mesin," kata Wald.

IV

Mengapa di mesin? Wald menyadari satu hal yang luput dari pandangan semua orang.

Militer hanya melihat pesawat yang berhasil pulang. Mereka lupa bahwa pesawat-pesawat itu selamat justru karena mereka tertembak di sayap dan ekor. Artinya, sayap dan ekor cukup kuat menahan peluru.

Lalu, ke mana perginya pesawat yang tertembak di mesin? Mereka hancur di udara. Mereka jatuh ke lautan atau daratan musuh. Mereka tidak pernah pulang ke pangkalan untuk dihitung lubang pelurunya.

Kebutaan terhadap data yang hilang inilah yang dalam dunia psikologi dan sains dikenal dengan nama survivorship bias atau bias kebertahanan.

Ini adalah sebuah kesalahan logika bawaan otak manusia. Secara alamiah, kita hanya fokus pada "yang selamat" dan mengabaikan mereka yang gugur. Kita melihat apa yang ada di depan mata, tanpa mempertimbangkan apa yang tidak terlihat.

Sekarang, mari kita bawa logika Abraham Wald ini ke era modern. Tepatnya, ke buku-buku sukses dan rutinitas miliarder yang kita bahas di awal tadi.

Kita sering mendengar cerita inspiratif. Bill Gates drop out dari Harvard dan membangun Microsoft. Mark Zuckerberg drop out dan membangun Facebook. Kesimpulan yang sering diambil orang: drop out kampus adalah jalan pintas menjadi jenius teknologi.

Tapi tunggu dulu. Berapa banyak mahasiswa yang drop out lalu berakhir menganggur, terlilit utang, dan tidak punya keahlian apa-apa? Jumlahnya jutaan. Tapi mereka tidak menulis buku. Mereka tidak diundang ke podcast terkenal. Suara mereka tidak terdengar. Mereka adalah pesawat yang jatuh tertembak di mesin.

V

Inilah alasan mengapa kita tidak boleh hanya belajar dari orang sukses.

Ketika kita menelan mentah-mentah cerita sukses, kita sedang menjadi perwira militer yang meneliti sayap pesawat berlubang. Kita mengira rutinitas mandi air es dan bangun jam empat pagi adalah kunci kekayaan. Padahal, mungkin saja ada puluhan ribu pengusaha bangkrut yang bangun lebih pagi dan bekerja lebih keras.

Kesuksesan sering kali adalah kombinasi rumit dari kerja keras, privilese, momen yang pas, genetik, dan luck atau keberuntungan yang brutal.

Memahami survivorship bias bukanlah pelarian agar kita menjadi pesimis atau malas. Sebaliknya, ini adalah sebuah kelegaan. Ini adalah pelukan empati untuk diri kita sendiri.

Jika teman-teman sudah bekerja mati-matian, membaca buku-buku motivasi, mempraktekkan semuanya, tapi belum mencapai puncak dunia, tolong jangan merasa bodoh. Kita tidak gagal karena kita kurang luar biasa. Kita hanya sedang menghadapi realitas statistik yang sebenarnya.

Mulai sekarang, saat kita ingin belajar tentang jalan hidup, mari kita sedikit mengubah kebiasaan. Jangan cuma bertanya pada mereka yang berhasil berdiri di puncak gunung. Sekali-kali, cobalah duduk dan ngobrol dengan mereka yang tergelincir di tengah pendakian.

Terkadang, pelajaran paling berharga untuk bertahan hidup tidak datang dari sang pemenang, melainkan dari kegagalan yang tidak pernah diceritakan.